Cuaca pagi, siang, sore sampai malamnya masih terus menggantung. Kemarau sepertinya tak putus-putus di Serang-Banten ini. Padahal kalau aku lihat di berita, khususnya berita-berita di mancanegara. Hujan lebih lebat, atau salju semakin menghebat. Bahkan disertai bencana-bencananya pula.
Memang aneh …
Yang satu kemarau dan bencananya.
Yang satu lagi hujan dan bencananya pula.
Memang ini abad globalisasi tanpa batas.
Melewati batas-batas hitam dan putih, air serta api, bahkan kemarau dengan hujannya.
Ada apakah ini ?
Dunia kini tanpa batasan. Melampaui makna, substansi, hakikat yang sebenarnya. Tidak hanya ulah tangan jahil manusia terhadap distorsi media. Akan tetapi terhadap alam pun “mereka” mampu untuk ber-eksperimen.
Yaah … meski yang menjadi objek tetap manusia-manusia dunia selatan, atau negara ketiga. Ketika bencana memang telah direncanakan oleh konspirasi manusia bernafsu kuasa. Menciptakan hegemoni disegala bidang. Tanpa batas, global.
Mestinya sebagian manusia perlu berpikir kritis. Menciptakan kesadaran. Bahwa keadaan ini, kenyataan ini bisa kita rubah. Ketika yang terjadi kini, sesungguhnya ada suatu gerakan rekayasa. Ada konspirasi dibaliknya.
Mari terus belajar.
Mari terus biasakan untuk berpikir terbuka dan runtut.
Kritis !. Bahwa kita bukan sebagai korban keadaan. Namun kita memang telah di “uji-cobakan” oleh mereka. Oleh sistem relasi, konstruksi sosial, kontrak mereka untuk kita.
Kita-kita adalah bangsa yang sering dijadikan percobaan untuk bermacam-macam sistem dan ideologi. Apa jadinya bila kita hanya menjadi bangsa yang mengekor.
Inilah hasilnya.
Kini apa yang bisa kita rubah. Padahal perubahan adalah suatu kepastian. Kepada bangsa-bangsa barat dan utara. Jangan jadikan kami sebagai simbol sapi perahan. Menciptakan anekdot, opini, polemik, propaganda lewat media. Meracuni jiwa-jiwa kami dengan slogan liberalisme-mu.
Menuhankan hak atas manusia.
Manusia adalah segala-galanya.
Manusia rival dari alam.
Manusia kuasa atas dirinya.
Bahh … !! Hanya sebuah kamuflase belaka. Membuat bermacam ilmu dan ideologi yang dijual pada kami secara cuma-cuma. Padahal slogan kesemuan. Justru itu yang memperkokoh kekuasaan-mu. Hingga mengerdilkan pemikiran-pemikiran kami.