Ya, apa kata dunia.Kalimat ini sering kita dengar dari omongannya bung Nagabonar alias bang Dedi Mizwar. Memang ironi apabila kita melihat fenomena zaman yang semakin dibolak-balik. Seperti ungkapan “selingkuh”.Yang dulu memang dianggap tabu alias pemali. Dunia ya apa kata dunia … , namun dunia dan semua gaya hidupnya sudah dapat direkayasa dan dibuat antara hitam-putih. Bila kita mengamati secara kritis apa yang terjadi, ini adalah dampak dari media. Simbol atau antek dari istilah globalisasi. Kalau kata pakar budaya dan seni modern disebut fase posmodern. Dimana banyak peran yang terlibat dan bersembunyi atau menyamar. Semisal, ada peran-peran kapitalisme, liberalisme, pluralisme, serta sekularisme. Memang kita tidak dapat menafikkan semua yang mempengaruhi budaya timur, budaya Indonesia adalah dari luar Indonesia sendiri. Kalau kita lihat sekarang, banyak kaum remaja yang terlalu “matre” terlalu menampilkan kesan kostum yang instan. Sementara tayangan-tayangan dimedia televisi saat ini banyak mengumbar produk kapitalis melalui rating-rating tertinggi dari iklan. Sehingga dampaknya ada peran terkuat dari pemirsa terbanyak dan produser yang kuat dari kapasitas modal serta relasi. Dampak lainnya tentu saja para pemirsa yang masih “merem” terhadap segala tayangan dan segala intrik gejala posmodern media. Kita sekarang hanya tercengang pada apa yang terjadi disekitar kita. Dunia adalah milik opini yang dibuat dari kekuatan penguasa media. Yang benar adalah “apa kata televisi??”. Dunia tidak bisa menampilkan keadaan sebenarnya.