Feeds:
Tulisan
Komentar

Kapitalisme itu Apa??

Dewasa ini wacana Kapitalisme sering menjadi bahan pembicaraan bagi masyarakat bahkan pemerintah. Sebenarnya wacana apakah Kapitalisme itu?. Mengapa saat ini lebih menjadi “opini” bagi kalangan oposisi bagi penguasa dan pengusaha. Marilah kita telaah bagaimana sepak terjang Kapitalisme.

Kapitalisme sebagai konsep diperkenalkan kembali di zaman Kolonialisme, saat Inggris Raya menjadi empire kekuasaan dan kekayaan. Kolonialisme memang sangat erat kaitannya dengan Kapitalisme, yakni suatu sistem ekonomi yang dikelola oleh sekelompok kecil pemilik modal yang tujuan pokoknya adalah memaksimalkan keuntungan. Dalam upaya memaksimalisasi keuntungan itulah kaum Kapitalisme tak segan-segan mengeksploitasi orang atau bangsa-bangsa lain. Melalui Kolonialisme para Kapitals Eropa memeras tenaga dan kekayaan alam rakyat negeri-negeri terjajah demi keuntungan mereka.

Sebagai suatusistem yang eksploitatif, maka Kapitalisme itu mendorong praktek-praktek Imperialisme. Imperialisme yang lebih mengacu pada praksis ekspansi wilayah suatu negara, pada abad ke-20 pengertian itu diperluas, yakni sebagai sistem politik dan sebagai sistem ekonomi. Sebagai sistem politik, ia akan berakhir ketika sebuah wilayah yang dijajah menjadi merdeka. Tetapi sebagai sebuah sistem ekonomi, Imperialisme bisa berlangsung terus bahkan ketika negara terjajah itu sudah merdeka secara politis.

Masih sekitar Imperialisme, Presiden Soekarno pernah mengatakan : ” Imperialisme bukanlah pegawai pemerintah; ia bukan suatu pemerintahan; ia bukan kekuasaan; ia bukanlah pribadi atau organisasi apapun. Sebaliknya, ia adalah hasrat berkuasa, yang antara lain terwujud dalam sebuah sistem yang memerintah atau mengatur ekonomi dan negara orang lain. Lebih dari sekedar suatu institusi, Imperialisme merupakan kumpulan dari kekuatan-kekuatan yang kelihatan maupun tak kelihatan baik sebagai sistem politik maupun sebagai sistem ekonomi.” Silahkan anda menyimpulkan sendiri.

Distorsi Zaman

Cuaca pagi, siang, sore sampai malamnya masih terus menggantung. Kemarau sepertinya tak putus-putus di Serang-Banten ini. Padahal kalau aku lihat di berita, khususnya berita-berita di mancanegara. Hujan lebih lebat, atau salju semakin menghebat. Bahkan disertai bencana-bencananya pula.

Memang aneh …

Yang satu kemarau dan bencananya.

Yang satu lagi hujan dan bencananya pula.

Memang ini abad globalisasi tanpa batas.

Melewati batas-batas hitam dan putih, air serta api, bahkan kemarau dengan hujannya.

Ada apakah ini ?

Dunia kini tanpa batasan. Melampaui makna, substansi, hakikat yang sebenarnya. Tidak hanya ulah tangan jahil manusia terhadap distorsi media. Akan tetapi terhadap alam pun “mereka” mampu untuk ber-eksperimen.

Yaah … meski yang menjadi objek tetap manusia-manusia dunia selatan, atau negara ketiga. Ketika bencana memang telah direncanakan oleh konspirasi manusia bernafsu kuasa. Menciptakan hegemoni disegala  bidang. Tanpa batas, global.

Mestinya sebagian manusia perlu berpikir kritis. Menciptakan kesadaran. Bahwa keadaan ini, kenyataan ini bisa kita rubah. Ketika yang terjadi kini, sesungguhnya ada suatu gerakan rekayasa. Ada konspirasi dibaliknya.

Mari terus belajar.

Mari terus biasakan untuk berpikir terbuka dan runtut.

Kritis !. Bahwa kita bukan sebagai korban keadaan. Namun kita memang telah di “uji-cobakan” oleh mereka. Oleh sistem relasi, konstruksi sosial, kontrak mereka untuk kita.

Kita-kita adalah bangsa yang sering dijadikan percobaan untuk bermacam-macam sistem dan ideologi. Apa jadinya bila kita hanya menjadi bangsa yang mengekor.

Inilah hasilnya.

Kini apa yang bisa kita rubah. Padahal perubahan adalah suatu kepastian. Kepada bangsa-bangsa barat dan utara. Jangan jadikan kami sebagai simbol sapi perahan.  Menciptakan anekdot, opini, polemik, propaganda lewat media. Meracuni jiwa-jiwa kami dengan slogan liberalisme-mu.

Menuhankan hak atas manusia.

Manusia adalah segala-galanya.

Manusia rival dari alam.

Manusia kuasa atas dirinya.

Bahh … !! Hanya sebuah kamuflase belaka.  Membuat bermacam ilmu dan ideologi yang dijual pada kami secara cuma-cuma. Padahal slogan kesemuan. Justru itu yang memperkokoh kekuasaan-mu. Hingga mengerdilkan pemikiran-pemikiran kami.

Dikutip dari eramuslim.com

Siapa tak kenal Hollywood? Nyaris seluruh manusia di bumi ini kenal atau sedikitnya pernah mendengar istilah itu. Namun tahukah Anda jika nama Hollywood ternyata menginspirasikan banyak sekali studio-studio besar di banyak negara dunia, yang juga terkait dengan produksi film.

 

Kita semua tahu bahwa Hollywood yang dikuasai jaringan Yahudi AS itu tidak sekadar bikin film dan mendatangkan uang yang besar. Ada sisi ideologis di balik berdirinya mesin industri hiburan terbesar dan terlengkap di dunia ini. Misinya sederhana: mempromosikan The American Dreaming ke seluruh umat manusia. Apa sebenarnya “The American Dreamin” tersebut? Ini tak lain adalah: Kebebasan, Kebebasan, dan Kebebasan. Liberalisme.

 

Dalam benak orang banyak, kebebasan yang digaungkan Hollywood tentu positif. Bebas untuk berekspresi, bebas untuk berbicara, bebas untuk berkreasi, bebas untuk berpikir, dan sebagainya. Bukankah ini bagus?

 

Tapi nanti dulu, kebebasan seperti itu sebenarnya sekadar kedok bagi liberalisme absolut yang menempatkan akal manusia pada kekuasaan mutlak. Tidak ada batas-batas, apalagi agama. Inilah sebenarnya tujuan para pendiri Hollywood, yakni membuat seluruh manusia di bumi ini terseret dalam arus liberalisme sehingga tidak mau lagi tunduk pada yang namanya iman. Yang ada hanyalah pikiran (dan nafsu).

 

Sudah terlalu banyak kisah nyata bagaimana kemaksiatan terjadi di Hollywood. Tulisan ini tidak akan membahas hal tersebut, namun memaparkan kepada kita semua betapa nama ‘Hollywood’ ternyata menginspirasikan banyak negara untuk mengadaptasi namanya untuk studio-studio film mereka.

 

Tapi nanti dulu, siapa tahu, ya siapa tahu, kenyataan ini ternyata bukan sekadar “inspiring name” tetapi yang terjadi sebenarnya merupakan jaringan (Hollywod network) yang memuat visi dan misi yang sama dengan induknya. Siapa tahu?

 

Inilah daftar sejumlah studio-studio di berbagai negara yang namanya diambil dari nama ‘Hollywood’:

 

  • Bollywood (Mumbai, India).
  • Chollywood (Peruvian)
  • Dhaliwood (Dhaka, Bangladesh).
  • Dollywood (Taman Hiburan di Tennesse, AS)
  • Etyekwood (nama lain Korda Studios di Budapest, Hongaria)
  • Hollyhammar (Swedia)
  • Hollywood North (Vancouver, Toronto, di Canada)
  • Kollywood (Chennai, Tamil Nadu, Selatan India).
  • Lollywood (Lahore, Pakistan).
  • Mollywood (Industri Film Malayalam India).
  • Mollywood (Industri Film Mormon).
  • Nollywood (Nigeria).
  • Pollywood (Peshawar, Pakistan).
  • Sollywood (Industri Film Sindhi).
  • Tollywood (Andhra Pradesh).
  • Tollywood (Bengali Barat, India).
  • Trollywood (Trollhättan Municipality, Swedia).
  • Valleywood (Wales).
  • Wellywood (Wellington, New Zealand).

Tentang Hollywood dan Jaringan Yahudi AS yang berkuasa di dalamnya, tentang sejarah dan agenda terselubungnya, tentang pengaruh global Hollywoodisme terhadap budaya dunia–termasuk di Indonesia, akan dibahas dalam majalah eramuslim digest edisi 3 yang insya Allah akan terbit awal Oktober 2007.(Rizki)

Aku

aku …
umpama roda dunia
putar mengakali kosmos
iring garis waktu ternaskah

aku …
perantara hitam, putih
andai poros as topang jari putaran

aku …
antara coretan tinta
hitam,merah, emas dan biru

aku …
dan lingkungan
aku dan sejarah

Televisi Indonesia

melihat realita kini
tak berujar tak sadari
berjuta kepala keinginan menyatu
ciptai kedamaian

kekerasan,mistik,pornogarafi
tiga segitiga lingkaran setan
merasuk mental manusia Indonesia

media massa …
apapun motifnya
takkan menyebarkan info
takkan mencerdaskan manusia Indonesia

Hanya bahasa,lambang penaka umpama
pemancing semiotik pemegang kuasa
pengecoh mata-telinga manusia awam

bagai mitos kuno
mitos-mitos posmo
mengglobal budaya,politik,ekonomi,sosial
lalui media

adikuasa bagai pusat sumber media
agitasi budaya pop yang trendi
jalan mulus global bagi adidaya negara
memeras SDM, SDA bagi kapitalis internasional

liberalisme tanpa kekerasan
ekonomi ibarat panglima
media jadi propaganda

bahasa akhir final dari filsafat
semiotik, analitis disalahgunakan tuk
alat berkuasa…

Apa kata dunia??

Ya, apa kata dunia.Kalimat ini sering kita dengar dari omongannya bung Nagabonar alias bang Dedi Mizwar. Memang ironi apabila kita melihat fenomena zaman yang semakin dibolak-balik. Seperti ungkapan “selingkuh”.Yang dulu memang dianggap tabu alias pemali. Dunia ya apa kata dunia … , namun dunia dan semua gaya hidupnya sudah dapat direkayasa dan dibuat antara hitam-putih. Bila kita mengamati secara kritis apa yang terjadi, ini adalah dampak dari media. Simbol atau antek dari istilah globalisasi. Kalau kata pakar budaya dan seni modern disebut fase posmodern. Dimana banyak peran yang terlibat dan bersembunyi atau menyamar. Semisal, ada peran-peran kapitalisme, liberalisme, pluralisme, serta sekularisme. Memang kita tidak dapat menafikkan semua yang mempengaruhi budaya timur, budaya Indonesia adalah dari luar Indonesia sendiri. Kalau kita lihat sekarang, banyak kaum remaja yang terlalu “matre” terlalu menampilkan kesan kostum yang instan. Sementara tayangan-tayangan dimedia televisi saat ini banyak mengumbar produk kapitalis melalui rating-rating tertinggi dari iklan. Sehingga dampaknya ada peran terkuat dari pemirsa terbanyak dan produser yang kuat dari kapasitas modal serta relasi. Dampak lainnya tentu saja para pemirsa yang masih “merem” terhadap segala tayangan dan segala intrik gejala posmodern media. Kita sekarang hanya tercengang pada apa yang terjadi disekitar kita. Dunia adalah milik opini yang dibuat dari kekuatan penguasa media. Yang benar adalah “apa kata televisi??”. Dunia tidak bisa menampilkan keadaan sebenarnya.

Halo dunia!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!